1. Konsep dan Fungsi Value Chain
Konsep value chain (VC) memungkinkan
perusahaan mendapatkan competitive advantage melalui cost leadership,
differentiation, atau keduanya. Untuk dapat mengerti competitive advantage
suatu perusahaan, tidak bisa perusahaan dilihat sebagai satu keseluruhan, tetapi
sebagai aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan. Aktivitas-aktivitas itu
harus diselidiki secara sistematis bagaimana kinerja dan interaksinya. Konsep
value chain merupakan Rangkaian kegiatan untuk operasi perusahaan dalam
industri yang spesifik.
Fungsi Value Chain : mendesain,
menghasilkan, memasarkan, mengeluarkan, dan memasarkan produk yang
dihasilkannya
2. Aktivitas Value Chain
Hitt, Ireland, Hoskisson (2001:127)
menjabarkan kembali potensi penciptaan nilai dari aktivitas primer dan
pendukung.
a. Aktivitas
Primer
- Inbound Logistics (logistik ke dalam), dihubungkan dengan menerima, menyimpan, dan menyebarkan input-input ke produk. Termasuk di dalamnya penanganan bahan baku, gudang dan kontrol persediaan.
- Operations (operasi), segala aktivitas yang diperlukan untuk mengkonversi input-input yang disediakan oleh logistik masuk ke bentuk produk akhir. Termasuk di dalamnya permesinan, pengemasan, perakitan, dan pemeliharaan peralatan.
- Outbound Logistik (logistik ke luar), aktivitas-aktivitas yang melibatkan pengumpulan, penyimpanan, dan pendistribusian secara fisik produk final kepada para pelanggan. Meliputi penyimpanan barang jadi di gudang, penanganan bahan baku, dan pemrosesan pesanan.
- Marketing and Sales (pemasaran dan penjualan), aktivitas-aktivitas yang diselesaikan untuk menyediakan sarana yang melaluinya para pelanggan dapat membeli produk dan mempengaruhi mereka untuk melakukannya. Untuk secara efektif memasarkan danmenjual produk, perusahaan mengembangkan iklan-iklan dan kampanye professional, memilih jaringan distribusi yang tepat, dan memilih, mengembangkan, dan mendukung tenaga penjualan mereka.
- Service (pelayanan), aktivitas-aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan atau memelihara nilai produk. Perusahaan terlibat dalam sejumlah aktivitas yang berkaitan dengan jasa, termasuk instalasi, perbaikan, pelatihan, dan penyesuaian.
b. Aktivitas
Pendukung
- Procurement (pembelian/pengadaan), aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk membeli input-input yang diperlukan untuk memperoduksi produk perusahaan. Input-input pembelian meliputi item-item yang semuanya dikonsumsi selama proses manufaktur produk.
- Technology development (pengembangan teknologi), aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk memperbaiki produk dan proses yang digunakan perusahaan untuk memproduksinya. Pengembangan teknologi dapat dilakukan dalam bermacam-macam bentuk, misalnya peralatan proses, desain riset, dan pengembangan dasar, dan prosedur pemberian servis.
- Human resources management (manajemen sumber daya manusia), aktivitas-aktivitas yang melibatkan perekrutan, pelatihan, pengembangan, dan pemberian kompensasi kepada semua personel.
- Firm infrastructure (infrastruktur perusahaan) atau general administration (administrasi umum), infrastruktur perusahaan meliputi aktivitas-aktivitas seperti general management, perencanaan, keuangan, akuntansi, hukum, dan relasi pemerintah, yang diperlukan untuk mendukung kerja seluruh rantai nilai melalui infrastruktur ini, perusahaan berusaha dengan efektif dan konsisten mengidentifikasi peluang-peluang dan ancaman-ancaman, mengidentifikasi sumber daya dan kapabilitas, dan mendukung kompetensi inti.
Michael E.
Porter (1998:43-44) menjelaskan mengenai tipe aktivitas. Dalam setiap kategori
aktivitas primer dan pendukung, terdapat tiga tipe aktivitas yang memainkan
peranan yang berbeda dalam keunggulan kompetitif:
1) Langsung: aktivitas yang secara langsung
terlibat dalam menciptakan nilai kepada pembeli, seperti perakitan, bagian
mesin, operasi tenaga penjualan, periklanan, desain produk, rekrutmen, dll.
2) Tidak Langsung: aktivitas yang
memungkinkan untuk melakukan aktivitas langsung secara terus menerus, seperti
pemeliharaan, penjadwalan pengoperasian fasilitas, tenaga administrasi
penjualan, administrasi penelitian, catatan vendor.
3) Jaminan Kualitas: aktivitas yang
menjamin kualitas kegiatan lain, seperti pemantauan, inspeksi, pengujian,
meninjau, memeriksa, menyesuaikan dan pengerjaan ulang. Jamina kualitas tidak
identik dengan manajemen mutu, karena banyak aktivitas nilai memberikan
kontribusi terhadap kualitas.
3. Value Chain & Cost Analysis
Value chain cost analysis membantu
mengukur daya pemasok dengan manghitung persentase total keuntungan yang di
distribusikan ke supplier.
Low cost strategy
Low cost
strategy memfokuskan kepada terciptanya low cost relatif terhadap pesaing, jadi
berhubungan dengan cost leadership. Cost leadership dapat dicapai dengan
pendekatan-pendekatan:
1)
Skala
ekonomis dalam produksi
2) Efek-efek experience curve
3) Tight cost control
4) Cost minimization di berbagai sektor,
seperti R&D, jasa, tenaga penjualan, atau periklanan.
Diagnosing Cost Drivers
Tahap kedua
di dalam membuat dan menggunakan value chain adalah dengan mengenal cost driver
yang menerangkan variasi di dalam biaya dalam tiap-tiap nilai aktivitas.
Percobaan-percobaan
telah dilakukan untuk membuat daftar yang menyeluruh atas cost driver. Di dalam
literatur manajemen strategi, daftar yang baik atas cost-driver tercantum:
Daftar atas
cost driver tersebut dipisahkan atas dua kategori:
1) Structural cost driver
2) Executional cost driver
Structural
Cost Driver
Di dalam
structural cost driver, palling tidak ada lima pilihan yang harus dilakukan
perusahaan berkaitan dengan struktur ekonomi:
1) Skala: bagaimana ukuran dari
investasi yang akan dilakukan si dalam manufacturing, R&D, dan marketing
resources?
2) Ruang lingkup: bagaimana tingkat dari
integrasi vertikal? (integrasi horizontal lebih berhubungan dengan ruang
lingkup)?
3) Pengalaman: berapa kali terjadi di
waktu-waktu yang lalu, yang telah dilakukan perusahaan, yang akan dilakukan
lagi?
4) Teknologi: proses teknologi yang
digunakan di dalam tiap-tiap value chain perusahaan?
5) Kompleksitas: berapa banyak product
line atau service line diberikan kepada pelanggan?
Executional
Cost Driver
Executional
cost driver menjelaskan posisi biaya perusahaan sehubungan dengan kemampuan
mencapai kesuksesan.
Daftar yang
mendasar atas executional cost driver, paling tidak mencakup:
1) Work force involvement
"partisipasi": apakah tenaga-tenaga kerja memiliki komitmen untuk
kelanjutan usaha?
2) Total Quality Management (TQM): apakah
tenaga kerja yang ada memiliki komitmen terhadap kualitas produk secara total?
3) Capacity utilization: apakah pilihan
atas skala konstruksi maksimum?
4) Plant layout efficiency
5) Product configuration: apakah desain
atau formulasi produk sudah efektif?
6) Linkages with suppliers or customers:
apakah hubungan dengan pemasok atau pelanggan sudah dieksploitasi, sehubungan
dengan value chain dari perusahaan?
Fundamental
Cost Driver
Dasar
pemikiran dari fundamental cost driver ini antara lain:
1) Value chain as the broader framework
Konsep dari cost driver
merupakan cara untuk dapat mengerti perilaku biaya di dalam masing-masing
aktivitas di dalam value chain.
2) Volume is not enough
Untuk analisis strategi,
volume bukan cara yang dapat digunakan sepenuhnya untuk menjelaskan perilaku
biaya.
3) Structural choices and executional
skills
4) Relevant strategic drivers
Tidak semua strategic
driver dapat dikatakan penting sepanjang waktu walaupun beberapa adalah penting
di semua kasus.
5) Cost analysis framework
Untuk masing-masing cost
driver, framework atas analisis biaya diperlukan untuk memahami positioning
perusahaan.
6) Cost driver specific to activities
Aktivitas-aktivitas yang
berbeda di dalam value chain dipengaruhi oleh customer-customer yang berbeda.
4. Value Chain & Differentiation
Differentiation
strategy memfokuskan pada penciptaan sesuatu berupa keunikan dalam pandangan
pelanggan. Keunikan produk dapat diciptakan dengan berbagai pendekatan, seperti:
brand loyalty (coca-cola), superior customer service (IBM), dealer network
(caterpillar tractors), desain dan fitur produk (hewlett-packard), atau
teknologi (coleman).
5. Value Chain &
Technology
Infrastruktur
perusahaan melibatkan berbagai teknologi karna setiap aktivitas nilai
menggunakan informasi, yang terbukti menunjukan formasi sistem teknologi dalam
setiap kategori.