Kamis, 24 November 2016

VALUE CHAIN

1. Konsep dan Fungsi Value Chain
            Konsep value chain (VC) memungkinkan perusahaan mendapatkan competitive advantage melalui cost leadership, differentiation, atau keduanya. Untuk dapat mengerti competitive advantage suatu perusahaan, tidak bisa perusahaan dilihat sebagai satu keseluruhan, tetapi sebagai aktivitas-aktivitas yang saling berhubungan. Aktivitas-aktivitas itu harus diselidiki secara sistematis bagaimana kinerja dan interaksinya. Konsep value chain merupakan Rangkaian kegiatan untuk operasi perusahaan dalam industri yang spesifik.
            Fungsi Value Chain : mendesain, menghasilkan, memasarkan, mengeluarkan, dan memasarkan produk yang dihasilkannya

2. Aktivitas Value Chain
            Hitt, Ireland, Hoskisson (2001:127) menjabarkan kembali potensi penciptaan nilai dari aktivitas primer dan pendukung.
a. Aktivitas Primer

  1.              Inbound Logistics (logistik ke dalam), dihubungkan dengan menerima, menyimpan, dan menyebarkan input-input ke produk. Termasuk di dalamnya penanganan bahan baku, gudang dan kontrol persediaan.
  2.            Operations (operasi), segala aktivitas yang diperlukan untuk mengkonversi input-input yang disediakan oleh logistik masuk ke bentuk produk akhir. Termasuk di dalamnya permesinan, pengemasan, perakitan, dan pemeliharaan peralatan.
  3.            Outbound Logistik (logistik ke luar), aktivitas-aktivitas yang melibatkan pengumpulan, penyimpanan, dan pendistribusian secara fisik produk final kepada para pelanggan. Meliputi penyimpanan barang jadi di gudang, penanganan bahan baku, dan pemrosesan pesanan.
  4.            Marketing and Sales (pemasaran dan penjualan), aktivitas-aktivitas yang diselesaikan untuk menyediakan sarana yang melaluinya para pelanggan dapat membeli produk dan mempengaruhi mereka untuk melakukannya. Untuk secara efektif memasarkan danmenjual produk, perusahaan mengembangkan iklan-iklan dan kampanye professional, memilih jaringan distribusi yang tepat, dan memilih, mengembangkan, dan mendukung tenaga penjualan mereka.
  5.            Service (pelayanan), aktivitas-aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan atau memelihara nilai produk. Perusahaan terlibat dalam sejumlah aktivitas yang berkaitan dengan jasa, termasuk instalasi, perbaikan, pelatihan, dan penyesuaian.


b. Aktivitas Pendukung

  1.            Procurement (pembelian/pengadaan), aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk membeli input-input yang diperlukan untuk memperoduksi produk perusahaan. Input-input pembelian meliputi item-item yang semuanya dikonsumsi selama proses manufaktur produk.
  2.            Technology development (pengembangan teknologi), aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk memperbaiki produk dan proses yang digunakan perusahaan untuk memproduksinya. Pengembangan teknologi dapat dilakukan dalam bermacam-macam bentuk, misalnya peralatan proses, desain riset, dan pengembangan dasar, dan prosedur pemberian servis.
  3.            Human resources management (manajemen sumber daya manusia), aktivitas-aktivitas yang melibatkan perekrutan, pelatihan, pengembangan, dan pemberian kompensasi kepada semua personel.
  4.            Firm infrastructure (infrastruktur perusahaan) atau general administration (administrasi umum), infrastruktur perusahaan meliputi aktivitas-aktivitas seperti general management, perencanaan, keuangan, akuntansi, hukum, dan relasi pemerintah, yang diperlukan untuk mendukung kerja seluruh rantai nilai melalui infrastruktur ini, perusahaan berusaha dengan efektif dan konsisten mengidentifikasi peluang-peluang dan ancaman-ancaman, mengidentifikasi sumber daya dan kapabilitas, dan mendukung kompetensi inti.

Michael E. Porter (1998:43-44) menjelaskan mengenai tipe aktivitas. Dalam setiap kategori aktivitas primer dan pendukung, terdapat tiga tipe aktivitas yang memainkan peranan yang berbeda dalam keunggulan kompetitif:
    1)      Langsung: aktivitas yang secara langsung terlibat dalam menciptakan nilai kepada pembeli, seperti perakitan, bagian mesin, operasi tenaga penjualan, periklanan, desain produk, rekrutmen, dll.
    2)      Tidak Langsung: aktivitas yang memungkinkan untuk melakukan aktivitas langsung secara terus menerus, seperti pemeliharaan, penjadwalan pengoperasian fasilitas, tenaga administrasi penjualan, administrasi penelitian, catatan vendor.
    3)      Jaminan Kualitas: aktivitas yang menjamin kualitas kegiatan lain, seperti pemantauan, inspeksi, pengujian, meninjau, memeriksa, menyesuaikan dan pengerjaan ulang. Jamina kualitas tidak identik dengan manajemen mutu, karena banyak aktivitas nilai memberikan kontribusi terhadap kualitas.

3. Value Chain & Cost Analysis
            Value chain cost analysis membantu mengukur daya pemasok dengan manghitung persentase total keuntungan yang di distribusikan ke supplier.
            Low cost strategy
Low cost strategy memfokuskan kepada terciptanya low cost relatif terhadap pesaing, jadi berhubungan dengan cost leadership. Cost leadership dapat dicapai dengan pendekatan-pendekatan:
    1)      Skala ekonomis dalam produksi           
    2)      Efek-efek experience curve
    3)      Tight cost control
    4)      Cost minimization di berbagai sektor, seperti R&D, jasa, tenaga penjualan, atau periklanan.

            Diagnosing Cost Drivers
Tahap kedua di dalam membuat dan menggunakan value chain adalah dengan mengenal cost driver yang menerangkan variasi di dalam biaya dalam tiap-tiap nilai aktivitas.
Percobaan-percobaan telah dilakukan untuk membuat daftar yang menyeluruh atas cost driver. Di dalam literatur manajemen strategi, daftar yang baik atas cost-driver tercantum:
Daftar atas cost driver tersebut dipisahkan atas dua kategori:
    1)      Structural cost driver
    2)      Executional cost driver

Structural Cost Driver
Di dalam structural cost driver, palling tidak ada lima pilihan yang harus dilakukan perusahaan berkaitan dengan struktur ekonomi:
    1)      Skala: bagaimana ukuran dari investasi yang akan dilakukan si dalam manufacturing, R&D, dan marketing resources?
    2)      Ruang lingkup: bagaimana tingkat dari integrasi vertikal? (integrasi horizontal lebih berhubungan dengan ruang lingkup)?
    3)      Pengalaman: berapa kali terjadi di waktu-waktu yang lalu, yang telah dilakukan perusahaan, yang akan dilakukan lagi?
    4)      Teknologi: proses teknologi yang digunakan di dalam tiap-tiap value chain perusahaan?
    5)      Kompleksitas: berapa banyak product line atau service line diberikan kepada pelanggan?

Executional Cost Driver
Executional cost driver menjelaskan posisi biaya perusahaan sehubungan dengan kemampuan mencapai kesuksesan.
Daftar yang mendasar atas executional cost driver, paling tidak mencakup:
    1)      Work force involvement "partisipasi": apakah tenaga-tenaga kerja memiliki komitmen untuk kelanjutan usaha?
    2)      Total Quality Management (TQM): apakah tenaga kerja yang ada memiliki komitmen terhadap kualitas produk secara total?
    3)      Capacity utilization: apakah pilihan atas skala konstruksi maksimum?
    4)      Plant layout efficiency
    5)      Product configuration: apakah desain atau formulasi produk sudah efektif?
    6)      Linkages with suppliers or customers: apakah hubungan dengan pemasok atau pelanggan sudah dieksploitasi, sehubungan dengan value chain dari perusahaan?

Fundamental Cost Driver
Dasar pemikiran dari fundamental cost driver ini antara lain:
    1)      Value chain as the broader framework
Konsep dari cost driver merupakan cara untuk dapat mengerti perilaku biaya di dalam masing-masing aktivitas di dalam value chain.
    2)      Volume is not enough
Untuk analisis strategi, volume bukan cara yang dapat digunakan sepenuhnya untuk menjelaskan perilaku biaya.
    3)      Structural choices and executional skills
    4)      Relevant strategic drivers
Tidak semua strategic driver dapat dikatakan penting sepanjang waktu walaupun beberapa adalah penting di semua kasus.
    5)      Cost analysis framework
Untuk masing-masing cost driver, framework atas analisis biaya diperlukan untuk memahami positioning perusahaan.
    6)      Cost driver specific to activities
Aktivitas-aktivitas yang berbeda di dalam value chain dipengaruhi oleh customer-customer yang berbeda.

4. Value Chain & Differentiation
Differentiation strategy memfokuskan pada penciptaan sesuatu berupa keunikan dalam pandangan pelanggan. Keunikan produk dapat diciptakan dengan berbagai pendekatan, seperti: brand loyalty (coca-cola), superior customer service (IBM), dealer network (caterpillar tractors), desain dan fitur produk (hewlett-packard), atau teknologi (coleman).

5. Value Chain & Technology
Infrastruktur perusahaan melibatkan berbagai teknologi karna setiap aktivitas nilai menggunakan informasi, yang terbukti menunjukan formasi sistem teknologi dalam setiap kategori.