Pada tahap ini, seorang manusia mengalami tingkat keingintahuan yang sangat tinggi dan rentan terjerumus ke berbagai hal, baik itu positif ataupun negatif. Rasa cinta yang tumbuh diantara dua insan memanglah wajar adanya, apalagi jika cinta itu tumbuh diantara 2 manusia yang memiliki iman yang sama, atau bisa dibilang 1 Agama.
Namun, bagaimanakah nasib rasa cinta dan sayang yang tumbuh dintara sepasang manusia yang berbeda agama? Bisakah mereka bersama? dan mungkinkah mereka akan bersatu?
Saat dua hati saling mencintai, ada sebuah halangan besar yang menjadi penghalang, perbedaan agama.
Ada yang mengatakan bahwa cinta adalah perpanjangan kasih sayang Tuhan untuk semua umat-Nya. Namun justru di saat dua orang saling mencintai, kotak-kotak agama menjadi hal yang membuat dada sesak. Saat kita bicara soal keyakinan, kadang cinta harus mengalah. Namun ada saatnya cinta membawa manusia pada keputusan yang tak mudah.
Saya sendiri pun merasakannya. Merasakan cinta yang sebenarnya adalah tidak diperbolehkan di dalam Agama. Saya merasakan kenyamanan bila bersama dirinya dan juga kebahagiaan apabila sedang menghabiskan waktu berdua dengannya, atau biasa dibesut dengan quality time. Begitupun dirinya, dia pun merasakan hal yang sama jika bersama dengan saya.
Kami sering bercanda-gurau layaknya orang pacaran, kami sering spending quality time together, dan perbincangan kami melalui sosial media atau chatting pun tergolong sangat romantis, layaknya seorang pasangan yang baru jadian. Yaaa, tapi sayangnya dibalik kebahagiaan dan kenyamanan yang kami rasakan, diantara kami tidak ada kata "berpacaran" atau status yang jelas. Kami memutuskan hanya bisa sebatas Friendzone, atau lebih enak nya bisa dikatakan dengan Special Friend.
Kenapa? karena kita berdua sadar bahwa kita berbeda, kita merasakan sesuatu yang disebut dengan "CINTA YANG DIHALANGI OLEH PERBEDAAN AGAMA". Iya, beda agama itu yang membuat miris. Di saat hati sudah menyatu, ternyata kepercayaan kita yang berbeda. Dan alasan lain mengapa kita sama-sama tidak ingin menjalin hubungan pacaran yaitu karena kami tahu dan mengerti resiko yang kami hadapi apabila kami putus, yaitu saling menjauh atau bahkan lost contact dan kami tidak ingin resiko tersebut terjadi.
Karena tidak ada kata berpisah diantara pertemanan, yang ada hanyalah menjauh secara perlahan, Itulah 1 hal yang saya takuti diantar hubungan kami ini, yaitu apabila dia memiliki seorang lelaki atau pacar baru yang pastinya akan mengancam hubungan Special Friend diantara kami.
Saya hanya takut apabila dia memiliki kekasih, dia akan perlahan menjauhi saya. Jujur, mungkin itu akan menjadi salah satu hal tersedih di dalam hidup saya. Ketika seseorang yang kita sayangi, kita kasihi, kita perjuangkan, dan sudah banyak memiliki kenangan indah bersama kita "layaknya" orang pacaran, harus berpisah karena ia memiliki pacar baru. Hal itu bisa terjadi karena tidak adanya kejelasan status diantara kita.
Cinta beda agama itu kita tau dia ga mungkin menjadi milik kita, tapi kita tetap menunggu dan berharap suatu saat dia memilih untuk bersama kita.
Pernah ada 1 pertanyaan yang terlintas di dalam pikiran saya, yaitu "Kenapa Tuhan membiarkan rasa cinta dan sayang ini jatuh kepada orang yang memiliki iman yang berbeda dengan diri saya?"
Namun, itu adalah rahasia Tuhan. Kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan untuk kita umatnya, tetapi rencana Tuhan selalu yang terbaik.
Begitupun dengan hubungan saya dengan "My Special Friend". saya menyerahkan kepada Tuhan sepenuhnya terkait kelangsungan hubungan ini. Mungkin saja kita bisa benar-benar bersatu di kemudian hari, atau status Special Friend ini akan terus berlanjut hingga kami dewasa nanti atau berubah menjadi Brotherzone (status yang hanya dianggap sebagai adik-kakak). Tidak ada seorangpun yang mengetahui rencana Tuhan di masa depan, but it is the best plan for us (human).
Keyakinan memang nomor 1, tapi hati tak bisa bohong. Hanya takdir yang dapat menyatukan kita kelak.
"LDR terjauh bukanlah ketika kita dipisahkan antar benua, tetapi LDR terjauh adalah ketika kita dipisahkan oleh karena perbedaan keyakinan."
Best Regards,
Julio Jeremy